Trump Hadiri KTT ASEAN: Misi Damai & Bara Defisit Dagang US$227,7 Miliar
Kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kuala Lumpur pada Minggu (26/10/2025) lalu menjadi sorotan utama. Momen langka ini, yang diklaim Gedung Putih membawa misi “perdamaian dan kemakmuran,” ditandai dengan penandatanganan Kuala Lumpur Peace Accords (Thailand-Kamboja) dan penekenan perjanjian dagang resiprokal. Malaysia bahkan dinaikkan statusnya menjadi mitra strategis komprehensif AS.
Namun, di balik narasi diplomatik tersebut, tersembunyi masalah ekonomi yang kian memanas: defisit perdagangan AS dengan ASEAN yang sangat besar, mencapai US$227,7 miliar pada tahun 2024.
ASEAN Sebagai Pemasok Manufaktur Global Baru
Data dari U.S. Trade Representative (USTR) menegaskan bahwa ASEAN kini bukan lagi sekadar pemasok bahan mentah, melainkan telah bertransformasi menjadi jantung industri manufaktur global yang melayani pasar Amerika. Nilai perdagangan barang AS dan ASEAN mencapai US$476,8 miliar pada 2024.
-
Defisit Mencapai Puncak: Defisit perdagangan AS dengan kawasan ini mencapai angka masif US$227,7 miliar, menunjukkan dominasi ekspor ASEAN ke pasar AS.
-
Tiga Raksasa Eksportir: Vietnam, Malaysia, dan Thailand menjadi tiga pemasok barang terbesar. Vietnam memimpin dengan ekspor senilai US$136,6 miliar, disusul Thailand (US$63,3 miliar), dan Malaysia (US$52,5 miliar).
-
Indonesia di Posisi Keempat: Indonesia menempati posisi keempat dengan ekspor senilai US$28,1 miliar, menunjukkan pertumbuhan yang stabil sebesar 4,8% dari tahun sebelumnya.
Profil Dagang Komoditas Unggulan ASEAN ke Pasar AS
Setiap negara ASEAN kini memiliki komoditas andalan yang menjadi penentu arah baru persaingan industri Asia Tenggara. Komposisi ekspor ini menjadi kunci bagi AS dalam menyusun kerangka kerja perdagangan baru dengan Thailand dan Vietnam.
| Negara | Komoditas Utama Ekspor ke AS | Status / Sektor Utama |
| Vietnam | Tekstil, Furnitur | Raksasa manufaktur, menantang Tiongkok |
| Malaysia | Elektronik, Semikonduktor, Kakao Olahan | Penguasa sektor hi-tech dan pangan olahan |
| Thailand | Otomotif, Makanan Laut Olahan | Pusat manufaktur otomotif dan pangan |
| Indonesia | Furnitur, Udang, Kopi, Minyak Kelapa Sawit | Agrikultur dan komoditas padat karya |
| Kamboja | Garmen, Alas Kaki | Pemasok utama pakaian jadi |
| Singapura | Bahan Kimia, Alat Medis | Pusat bahan kimia dan teknologi medis |
| Filipina | Minyak Kelapa, Perangkat Elektronik | Produk agrikultur dan elektronik |
| Brunei | Minyak dan Gas | Simbol strategis energi |
Intisari Berita: Mengapa Kunjungan Trump dan Data Dagang Ini Penting?
Berikut adalah inti sari yang harus Anda pahami dari pertemuan diplomatik dan data ekonomi ini:
-
Sinyal Geopolitik Kuat: Kenaikan status Malaysia menjadi mitra strategis komprehensif. Kehadiran langka Trump mengirimkan sinyal tegas bahwa AS sedang melakukan pergeseran geopolitik serius. Hal ini menjadikan ASEAN sebagai penyeimbang utama di Asia Tenggara.
-
Fokus Defisit Dagang: Misi “perdamaian” Trump datang bersamaan dengan defisit dagang yang sangat besar. Perjanjian dagang resiprokal dengan Malaysia dan Kamboja, serta kerangka kerja baru dengan Thailand dan Vietnam. Hal ini diyakini sebagai upaya AS untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan ini.
-
Persaingan Komoditas Memanas: Komoditas padat karya dan agrikultur menjadi arena pertarungan baru. Misalnya, Perikanan (Indonesia, Vietnam, Thailand), Kopi (Vietnam vs. Indonesia), dan Kakao Olahan (Indonesia vs. Malaysia). Indonesia kini bahkan menyalip Thailand dalam lemak nabati berkat dominasi produk turunan sawit.
